Aku Mau Pulang


Aku sering teringat akan tuntutannya yang terus menerus untuk pulang. Ia ingin pulang bukannya kemana-mana.

"Aku mau pulang!" seru bibiku, cemberut.

"Bibi, ini rumah kita," aku menjelaskan. "Bibi telah tinggal disini selama lebih dari 20 tahun. Waktu itu Anna baru lima tahun dan Budi dua tahun. Ingat?

"Ah, sebodo amat. Pokoknya aku mau pulang!"

Suamiku dan aku saling menatap. "Mungkin Bibi ingin pulang ke rumahnya sendiri," katanya.

"Tapi kan tak mungkin kita membawanya ke sana. Siapa yang jaga?"

Sementara itu ia sudah beringsut ke pintu depan, dipapah oleh pembantu yang merawatnya. "Aku mau pulang!" ulangnya.

Suamiku membisikkan sesuatu yang membuatku mengangguk. Kuhampiri Bibi dan kupeluk bahunya. "Baiklah, Bibi, mari kita pulang."

Kubimbing ia ke mobil dan kubantu duduk di belakang. Suamiku membawanya berkeliling kompleks, dan akhirnya kembali ke rumah lagi.

"Kita sampai," kataku.

"Ini bukan rumahku. Ini rumahmu."

Karena harus bergegas ke kantor, maka dengan bantuan dua orang pembantu, kami mendudukkan Bibi di depan televisi. "Aku mau pulang!" ulangnya sekali lagi.

Aku jadi sedih. Sejak penglihatannya berkurang, ia kehilangan pula hobi beratnya: menonton sinetron. Tapi aku bisa apa? Kami telah membawanya ke dua dokter mata dan dua-duanya sudah angkat tangan. Bibi sudah terlalu tua untuk menjalani operasi.

Ia adalah kakak ayahku. Ia tinggal di rumah orangtuaku sejak bercerai dan membantu ibuku mengelola rumah tangga. Ketika aku dan suamiku sedang membangun rumah, tiba-tiba saja Bibi berkata, "Aku ikut kamu."

Ia tidak meminta atau bertanya. Ia hanya menyatakan keinginannya. Tapi bagiku itu adalah berkah. Sebagai ibu bekerja, adanya seorang anggota keluarga di rumah membuatku lebih leluasa.

Maka ketika kami pindah ke rumah baru di pinggiran kota, ia tinggal bersama kami dan menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga kami. Ia mengelola rumah dan menjaga kedua anak kami, sementara aku bekerja penuh waktu. Pada waktu itu usianya sudah 69, tapi ia masih lincah dan berani naik ke genting untuk menjemur kerupuk.

Bibi dan aku berbeda sifat. Aku termasuk pendiam, ia sebaliknya. Aku memperlakukan anak-anak dengan pelukan dan ciuman, ia menegakkan disiplin. Aku gemar membelikan mainan bagi anak-anak, ia menyimpannya sebagian agar rumah tidak kelihatan berantakan.

Ia tidak begitu suka akan cara-caraku, yang dianggapnya terlalu permisif. Tapi aku juga yakin, ia sayang padaku. Berkali-kali ia berkata, "Kalau diizinkan Tuhan, aku ingin hidup sampai Anna berusia 16."

"Kenapa enam belas, Bi?" tanyaku.

"Karena kalau sudah sebesar itu, ia bisa membantu kamu." Tuh, 'kan, hanya aku dan kepentinganku yang dipikirkannya!

Ketika putriku mencapai usia itu, ia berumur 81, dan masih segar bugar!

Waktu berlalu, peran berganti. Dari pemeran utama di keluarga kami, pelan-pelan ia semakin kehilangan fungsi dan tidak berdaya.

Ia merasa sedih setiap kali mendengar ada anggota keluarga yang meninggal, khususnya yang sebaya dengannya. Ia jadi pendiam setiap kali hampir berulang tahun. Tubuhnya tetap sehat, tapi inderanya makin lama makin lemah. Ia kehilangan penglihatan, pendengaran, pengecapan, dan lambat laun ingatannya. Kadang-kadang ia bingung antara anakku dan anak kakakku.

Ternyata ia bertahan sampai Anna menikah dan punya anak. Pada saat itu, adegan 'aku mau pulang' telah menjadi episode yang berulang-ulang.

Suatu hari ia berhenti makan, seakan-akan memutuskan untuk berhenti hidup. Ia telah memenuhi tugasnya memelihara anak-anakku - yang satu sudah menikah dan yang lain melanjutkan studi master ke luar negeri. Ia merasa sudah saatnya 'pamit'. Usianya 96 tahun.

Hari-hari setelah ia meninggal, aku sering teringat akan tuntutannya untuk pulang. Timbul keyakinan, ia ingin pulang bukan kemana-mana, melainkan ke rumah Bapa-nya di surga. Terngiang-ngiang di telingaku lagu pengiring orang meninggal: "Ye who are weary come home, come home ..."


Komentar