Gunakanlah Pil KB dengan Benar



Ada beragam alasan pil KB menjadi pilihan kaum hawa. Yuk, ketahui lebih jauh manfaat dan dampak kontrasepsi oral ini.

Sejatinya, semua alat kontrasepsi memiliki konsep yang sama, yaitu menjarangkan kehamilan.

Cara kerjanya berbeda, sesuai jenis alat kontrasepsi itu sendiri. Kondom, misalnya, mencegah sperma membuahi sel telur. IUD atau spiral mencegah sperma melewati rongga rahim.

"Sementara itu, terapi hormonal seperti pil KB mencegah terjadinya ovulasi, yaitu bertemunya sel telur dengan sperma," papar Dr. Gatot Abdul Razak, Sp.OG, dari RS Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita.

Penjelasan senada disampaikan Dr. Satrio Dwi Prasojo, Sp.OG, dari RS Asri. "Fungsi dasar pil kontrasepsi adalah mencegah terjadinya kehamilan dengan mencegah ovulasi," ujar Dr. Satrio.

Ini berarti, kontrasepsi oral tersebut mencegah pelepasan sel telur dalam setiap siklus menstruasi, juga menebalkan lendir mulut rahim agar sperma sulit untuk masuk.

Lebih jauh mengenai pil kontrasepsi, Dr. Gatot menjelaskan bahwa ada pil yang kandungannya hanya hormon progesteron, dan ada pil yang berisi kombinasi progesteron dan estrogen.

Cara kerja keduanya sama, yaitu mencegah ovulasi. Namun, perlu diingat bahwa pil kombinasi tidak dianjurkan bagi ibu menyusui karena kandungan estrogen yang bisa memengaruhi produksi ASI.

"Pil kontrasepsi yang ada saat ini adalah pil kombinasi dan pil yang mengandung satu macam hormon saja, dan digunakan sesuai apa yang dibutuhkan, serta efek lain apa yang dibutuhkan," ujar Dr. Satrio.

Menurut Dr. Gatot, prinsip dasar semua jenis kontrasepsi sangat individual, begitu juga pil KB. Misalnya, si A merasa cocok menggunakan pil KB karena haidnya teratur dan berat badannya stabil.

Sementara itu, si B mungkin sebaliknya. Pil KB membuat haidnya tak teratur dan berat badannya bertambah. Tidak ada jenis pil KB tertentu yang paling bagus, karena setiap sel individu memiliki reaksi berbeda terhadap satu obat yang sama.

Kedua pakar ini menjelaskan bahwa selain mencegah kehamilan, pil KB dapat memberikan manfaat lain.

Manfaat ini tergantung pada kandungan di dalam pil kontrasepsi tersebut. Misalnya, ada pil yang dapat mencegah anemia, mengurangi risiko radang panggul karena lendir yang menebal sehingga mikroorganisme sulit masuk melalui mulut rahim, mengurangi rasa nyeri saat menstruasi, serta menurunkan zat prostaglandin yang menyebabkan kram atau nyeri.

"Bahkan, ada pil KB yang dapat menghaluskan kulit, karena hormon yang terkandung di dalamnya dapat menurunkan kadar hormon lain yang menyebabkan keluarnya jerawat," papar Dr. Satrio.

Selain itu, pil kontrasepsi juga mengurangi pertumbuhan atau mengurangi nyeri pada endometriosis, serta mencegah atau mengurangi risiko timbulnya tumor atau kanker ovarium.

Pil KB diketahui dapat membantu meredakan sindrom ovarium polikistik (PCOS), yaitu suatu keadaan yang menyebabkan haid tidak teratur dan disertai gangguan hormonal yang dapat mengakibatkan masalah kesuburan.

Fungsi ganda dalam pil kontrasepsi dikarenakan zat yang terkandung dalam pil yang mengandung hormon. Karena itu, meski fungsi utamanya adalah mencegah kehamilan, pil KB dapat memiliki efek lain, tergantung jenis hormon apa yang dikandung.

Kandungan progesteron maupun estrogen dalam pil KB memang diformulasi sedemikian rupa hingga menyerupai estrogen asli di dalam tubuh, yang mampu menekan efek samping dari pil KB seperti mual dan berat badan bertambah.

"Manfaat inilah yang terkadang menjadi jualan pil KB, termasuk klaim mampu mengatasi endometriosis. Sebenarnya, endometriosis hanya bisa diatasi dengan kehamilan," tandas Dr. Gatot.

Menurutnya, munculnya endometriosis dipicu oleh hormon estrogen. Nah, pil KB membuat tubuh perempuan seperti dalam kondisi menopause yaitu tidak haid, dengan kondisi estrogen yang rendah, sehingga endometriosis pun tidak tumbuh dan nyeri berkurang.

"Untuk mengatasi jerawat, pil KB sebenarnya cukup efektif. Namun, untuk endometriosis, masih banyak faktor yang harus dinilai, seperti seberapa besar dan banyaknya perlekatan," kata Dr. Satrio.

Namun, lanjut Dr. Satrio, pil kontrasepsi yang dimanfaatkan untuk mengurangi nyeri akibat endometriosis biasanya cukup efektif, selama endometriosis atau jaringan dinding rahim yang tumbuh di luar rahim juga tidak besar.

Dalam kasus ini, pil KB bekerja dengan mencegah terjadinya menstruasi (peluruhan dinding rahim), sehingga jaringan dinding rahim yang tumbuh di luar rahim (endometriosis) juga tidak mengalami menstruasi, dan nyeri dapat berkurang

Meski demikian, Dr. Gatot mengingatkan bahwa kontrasepsi hormonal tidak disarankan untuk digunakan dalam jangka panjang. Bahkan, para ahli merekomendasikan agar jangan lebih dari dua tahun dalam mengonsumsi pil KB.

"Semua jenis kontrasepsi yang dipakai tentu akan memengaruhi kesuburan. Inilah yang disebut dengan recovery, dan untuk setiap kontrasepsi, lamanya bisa berbeda-beda," tegas Dr. Gatot.

Misalnya, untuk spiral, masa recovery  adalah rata-rata 3 bulan untuk bisa hamil. Sementara itu, untuk pil, lamanya adalah dua bulan.

Kontrasepsi berbentuk suntik memiliki recovery  yang lebih lama, yaitu bisa sampai 4 bulan. Ini karena tubuh membutuhkan waktu untuk mengembalikan kondisi hormon seperti semula.

Bicara risiko, Dr. Gatot menekankan bahwa risiko pemakaian kontrasepsi hormonal memang paling mendekati ke arah kanker payudara, terutama untuk pil yang mengandung estrogen. Oleh karena itu, pil KB harus digunakan dengan benar.

Caranya? Selalu berkonsultasi dengan dokter Anda, terutama mengenai penggunaan dan dosis. Inilah yang menjadi kunci keberhasilan penggunaan pil KB.

"Berkonsultasilah pada ahlinya sebelum memutuskan untuk ber-KB. Jangan memutuskan sendiri. Konseling dan pemeriksaan fisik tetap dibutuhkan," tandas Dr. Gatot.

"Jangan datang ke dokter setelah muncul efek samping saja. Datanglah sejak tahap awal, sebelum Anda memutuskan untuk menggunakan pil kontrasepsi," pungkasnya.


Komentar