Melihat Uang Dari Masa ke Masa di Museum Bank Indonesia



"Tanggal 30 Oktober 1946, surat kabar Ra'yat memuat berita berjudul "Uang kita menang, kata rakyat Jakarta". Seorang tukang becak memilih pembayaran 20 sen uang kita daripada 1 rupiah uang NICA. Sementara itu harga ayam di pasar Tanah Abang hari ini 50 sen uang kita 10 rupiah uang NICA."

Paragraf di atas termuat dalam buku Kronik Revolusi Indonesia jilid II (1946) yang ditulis Pramoedya Ananta Toer dan kawan-kawan, dan dicetak Kepustakaan Populer Gramedia tahun 1999. Dengan catatan itu, Toer ingin menandai waktu di mana Indonesia yang baru setahun merdeka berhasil memiliki uangnya sendiri.

Catatan Toer sekaligus membalikkan memori kita pada satu momentum, di saat rakyat Indonesia kala itu mulai meninggalkan uang Jepang yang sebelumnya beredar sebagai alat bayar yang sah. Juga uang edaran Hindia Belanda dan De Javasche Bank yang tidak lagi laku.


Pada perjuangan kemerdekaan masa itu, sebelumnya memang banyak kalangan mendesak pemerintah untuk mencetak mata uang sendiri karena adanya tiga mata uang yang beredar yang menyebabkan hiperinflasi. ORI atau Oeang Republik Indonesia adalah respon pemerintah kemudian. ORI, tanda pembajaran jang sah pertama Indonesia, lalu resmi diedarkan hari itu, selepas siaran pidato Bung Hatta pada 30 Oktober 1946 di RRI Yogyakarta pukul 00.00 WIB.

Seiring Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia, De Javasche Bank yang didirikan Belanda tahun 1828, peran dan fungsinya kemudian digantikan Bank Indonesia (BI) yang resmi berdiri pada 1953. Uang baru pun mulai dirilis, sejak peran dan fungsi bank sentral ini berjalan. Uang baru yang kemudian dikenal dengan nama Rupiah, menggantikan ORI yang mulai ditarik peredarannya pada 1 Mei 1950.


Rupiah, mata uang resmi atau tanda pembayaran yang sah yang kemudian berlaku sampai sekarang. Dalam perjalanannya, Rupiah melewati berbagai fase dan perubahan baik dari sisi desain maupun nominalnya. Termasuk pada Desember 2016 lalu, di mana pemerintah meresmikan dan mengedarkan 11 pecahan Rupiah baru.

Begitulah sedikitnya cerita tentang uang Indonesia. Kisah perjalanannya menjadi satu tema menarik di antara sejarah nan panjang perjuangan bangsa. Hikayat uang Indonesia ini pun bakal kembali mengiang ketika kita berkunjung ke bekas gedung De Javasche Bank yang kini dialihfungsikan sebagai Museum Bank Indonesia di kawasan Kota Tua Jakarta.

Hikayat uang, adalah bagian bersambung dari keseluruhan isi museum itu. Satu spot bernama Ruang Numismatik berisikan beragam uang dari masa kerajaan-kerajaan kuno Nusantara sampai penampakan Rupiah Indonesia dari masa ke masa.

Uang ternyata bukan barang baru di negeri kaya rempah ini. Sejak bangsa ini jaya di masa kerajaan kuno pun, uang sudah dipakai. Ketika Nusantara kian mengenal perdagangan, di periode panjang itulah kerajaan-kerajaan, seperti Mataram Kuno, Jenggala, Majapahit, Samudera Pasai hingga Buton, sudah mengenal alat tukar berupa uang.

Keping tahil Jawa, uang sebesar kancing baju yang terbuat dari emas atau perak, sudah digunakan pada masa Kerajaan Mataram Kuno, sekitar tahun 850 atau 860 Masehi. Keping tahil Jawa inilah yang juga menjadi bukti awal adanya sistem mata uang di Jawa bahkan Nusantara.

Itulah, sejarah bangsa kita memang selalu menarik disimak. Hikayat mata uang saja setidaknya, telah mewarnai sejarah tiga zaman. Zaman kerajaan, zaman pendudukan atau kolonialisme, juga zaman selepas kemerdekaan. Ruang Numismatik di Museum Bank Indonesia pun cukup memperlihatkan itu semua.

Secara umum, menurut petugas museum, Museum Bank Indonesia sendiri menyajikan sejarah Indonesia dari perspektif keuangan secara luas. Mulai dari kedatangan bangsa barat ke Nusantara, sampai pada masa terbentuknya Bank Indonesia.

Di dalam museum ini juga dipaparkan berbagai kebijakan Bank Indonesia, latar belakang serta dampaknya, sampai tahun 2005. Penyajiannya dikemas dengan teknologi modern dan multi media.


Komentar