Anda Ingin Mengkloning Anjing Kesayangan?



Saat hewan kesayangan harus mati, setiap pemilik pasti sedih. Kini, tersedia jasa kloning bagi mereka yang enggan berpisah dengan peliharaan tercinta.

Ingat penyanyi dan aktris legendaris Barbra Streisand?

Belum lama ini, sang selebriti menjadi bahan berita ketika dia melakukan kloning pada Samantha, anjing kesayangannya yang mati tahun lalu di usia 14 tahun. Dari sel-sel anjing jenis Coton du Tulear tersebut, terciptalah dua kloning yang diberi nama Miss Scarlett dan Miss Violet.

"Mereka punya kepribadian yang berbeda," ujar Streisand. "Saya menunggu mereka tumbuh lebih besar supaya saya bisa melihat apakah mereka memiliki mata cokelat dan sifat serius Samantha."

Streisand merogoh tak kurang dari 100.000 dollar AS untuk teknologi tersebut. Pemilik hewan mana pun bisa mendapat layanan serupa lewat perusahaan seperti Sooam Biotech di Korea Selatan dan ViaGen di Texas.

Fotografer Monni Must adalah salah satunya.

Setelah Miya, putrinya yang berusia 28 tahun, bunuh diri, sang ibu yang berduka mengadopsi anjing Labrador hitam kesayangan putrinya, Billy Bean.

Tahun lalu, saat peringatan 10 tahun kematian si putri, Billy menginjak usia 13 tahun dan kondisinya semakin renta. Must memutuskan untuk mengkloning Billy dengan biaya lebih dari 50.000 dollar AS.

Menurut Must, anjing hasil kloning tersebut memiliki sifat ceria dan pemberani, persis aslinya. Kloning yang diberi nama Gunni tersebut juga memiliki tubuh kecil, bulu berkilau, dan cakar besar - seperti Billy.

"Dia juga melakukan hal-hal yang sama dengan Billy, seperti meletakkan kepala di lantai dan berguling ke pangkuan saya," kata Must. "Mengkloning Billy adalah salah satu keputusan terbaik dalam hidup saya."

Banyak yang dikorbankan untuk menghasilkan seekor anjing kloning.
Mari simak pemaparan prosesnya oleh John Woestendiek di Scientific American. Selain sampel jaringan dari anjing asal, para ilmuwan harus mengambil sel telur matang dari sejumlah anjing - jumlahnya bisa mencapai selusin.

Lantas, listrik dialirkan ke sel-sel tersebut sehingga mereka mulai membelah. Saat inilah, anjing yang akan menjadi induk pengganti disiapkan. Nucleus dari sel telur anjing tersebut diangkat, dan diganti dengan materi hewan yang akan dikloning.

Dibutuhkan sekitar 60 hari setelah injeksi embrio tersebut sampai kelahiran bayi anjing - biasanya melalui operasi caesar.

Apakah hewan hasil kloning akan persis dengan aslinya?

Yang pasti, mereka akan memiliki gen-gen yang sama, dan ini bisa mewujud dalam temperamen dan ciri fisik yang serupa. Namun, hewan kloning akan memiliki sedikit variasi dalam ekspresi gen tersebut. Warna mata dan corak bulu, misalnya, bisa berbeda.

Soal kepribadian, anjing dipengaruhi oleh lingkungan tempat ia lahir dan tumbuh. Faktor ini tak bisa direplikasi di dalam laboratorium. Karena itu, tak mengherankan jika anjing-anjing Streisand memiliki perilaku yang berbeda dari anjing asal.

Food and Drug Administration di Amerika - yang memantau kloning hewan seperti domba dan kambing - mengungkap bahwa hewan hasil kloning umumnya sehat. Namun, anjing memiliki sistem reproduksi lebih rumit, dan ini membuat mereka lebih sulit dikloning.

Idealnya, hewan yang ingin dikloning masih hidup saat biopsi jaringan diambil, yakni sampel kulit dan otot. Meski begitu, anjing masih bisa dikloning sampai lima hari setelah mati, sedangkan kucing setelah tiga hari - asalkan tubuh mereka disimpan di suhu dingin.

Belum jelas berapa banyak hewan yang dikloning setiap tahun. Mantan karyawan ViaGen yang menolak disebut namanya memperkirakan bahwa perusahaan tersebut telah melakukan kloning terhadap 100 anjing dan kucing.

Sementara itu, Sooam Biotech Research Foundation di Seoul, Korea Selatan, menguak bahwa mereka telah mengkloning sekitar 800 hewan peliharaan, dengan biaya 100.000 dollar AS.

Namun, tak sedikit pula perusahaan yang gagal dalam bisnis kloning.

Contohnya, PerPETuate. Mereka menawarkan jasa pengambilan DNA hewan dengan biaya 1.300 dollar AS. Ini belum termasuk biaya tambahan untuk penyimpanan. Kini, mereka tak lagi menawarkan layanan kloning.

Praktik ini juga mendapat tantangan dari pembela hak-hak hewan. Salah satunya Humane Society, yang berkeras bahwa proses kloning mengakibatkan penderitaan pada anjing-anjing penyedia sel telur dan pembawa embrio.

"Dengan tingkat kegagalan yang tinggi, banyak anjing dikurung dan disiksa untuk memastikan keberhasilan," ujar Vicki Katrinak dari Humane Society. "Kloning peliharaan sangat tidak diperlukan, terutama mengingat ada jutaan anjing dan kucing terlantar yang membutuhkan rumah."


Komentar